Kamis, 12 Januari 2012

Secret Admirer

Hari ini aku seperti mendapat suatu keajaiban yang datang bertubi-tubi. Pertama, aku mengetahui kalau dia sekelas sama aku. Kedua, aku mengetahui kalau dia bernama Pandu Saputra, dan ketiga entah kami memang jodoh atau apa dengan tanpa sengaja aku duduk peris dibelakangnya!!! Awalnya akupun gak nyangka, tapi ini beneran terjadi!! Alhasil, aku dan dia saling bicara, walaupun gak sering karena aku dan dia sama-sama gak mau jadi incaran guru di hari pertama. Dan hari itu, aku jalani sesuai solusi dari Ara. Aku terlihat seperti murid yang baru saja memenangkan olimpiade se-dunia. Aku selalu diam, dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh wali kelasku. Dan itu membuat Ara menjadi bingung. Dia lalu bertanya kepadaku. "Eh? Kamu Indriani Suci kan?" katanya belagak sok baru mengenaliku. Aku pun mendengus dan balik bertanya "Pendapatmu?". Ara kemudian menjawab dengan heran. "Yaaa habisnya kamu itu hari ini alim banget! Dulu kamu paling rame di kelas, sekarang aku kayak gak ngenalin kamu." katanya polos. "Hahaha kamu lupa? kan katamu aku harus keliatan pinter? Lagipula, mana mungkin aku bikin huru-hara di hari pertama sekolah? Aneh deh kamu!" kataku menjawab pertanyaan polos Ara. Ara hanya mengangguk dan kembali ke aktivitasya sebagai pelajar baru. Akupun demikian dan tentu saja sambil melihat Pandu secara sembunyi-sembunyi. "Andai kamu tau perasaanku kepadamu Ndu," kataku dalam hati.
Hari ini kulalui dengan senyum selebar mungkin. Tak heran Ara yang melihat tingkahku hanya geleng-geleng kepala dan berusaha mengingatkanku kalau dia sudah tau apa yang aku lihat. Tapi aku tak perduli akan Ara. Aku terus menceritakan luapan hatiku yang mungkin tak tentu kemana arahnya. Sampai dirumahpun aku masih terus tersenyum lebar. Mas Reno yang melihat tingkah anehku langsung bertanya kepadaku. "Ada yang lagi bahagia nih? Bahagia kenapa sih?" kata Mas Reno dengan nada ingin tahu. "Hehe, mau tau aja? udah ah, mau ngadem di kamar dulu. Panas niiih" kataku sambil nyelonong menuju kamar. Mas Reno hanya tertawa dan melanjutkan tujuannya. "Akhirnyaa aku sampe di kamar. Huffff" kataku dan bergegas menyalakan pendingin ruangan.. "Gak ada yang lebih seger daripada pendingin ruangan dan... Aha!! Segelas sirup keliatannya enak!" kataku dan bergegas menuju dapur tanpa mengganti seragamku terlebih dahulu. Setelah aku sampai di dapur aku segera membuka kulkas dan melihat isinya. "Asik!! Coklat nih!! punya siapa ya?" kataku senang. Aku lalu menanyakan kepemilikan coklat tersebut ke Bi Inah "bi, ini coklat punya siapa?" "oh, kata Den Reno coklat itu dari temannya, kalo ambil juga gak papa" kata Bi Inah menjelaskan. Akupun hanya ber-ooh ria. Setelah mengambil semua yang kubutuhkan di dapur, akupun kembali ke kemarku. Di kamar akupun segera teringat akan HP-ku yang sudah lama belum kucek sejak tadi pagi. Akupun mengambilnya di ransel. Setelah ludapatkan, aku tertegun karena ada 1 sms masuk dari nomer tak dikenal. "Sms dari sapa ya? Tumben ada nomer gak dikenal sms aku. Biasanya si Ara doang yang sms aku" heranku. Tanpa ragu akupun segera membuka sms itu. "Hai! Aku Pandu. Sori sms tiba-tiba soalnya aku cuman mau ngecek ini bener nomer kamu apa enggak. Ini nomer Indri anak 7F kan?" katanya di dalam sms "Pandu.." batinku dalam hati. Segera aku balas sms Pandu dengan hati shock karena tak percaya seorang Pandu,, yang selama ini membutakan segala pikiranku, sekarang hadir dengan sms di ponselku. aku pun membalasnya. "Iya Ndu ini Indri. Kamu tau nomerku dari mana?" tanyaku di sms berharap Pandu akan membalas smsku. Dan tepat sekali!! Pandu membalas smsku!! Aku kaget banget!! Dan mulai saat itu aku dengan Pandu saling mengirim hingga aku mulai terlelap. "Mimpi indah.. Makasih karena mau nemenin aku sms" katanya di dalam sms terakhirnya. "Iya nice dream too. Aku juga makasih ya Ndu :) Good Night :)" kataku membalas sms Pandu. "Night" kata Pandu singkat. Dan saat ini, aku merasakan bahwa aku jatuh cinta kepada Pandu.

Rabu, 11 Januari 2012

Secret Admirer

"Tak kusangka dia juga ada disini, apakah ini mimpi?" gumamku begitu aku telah menghempaskan tubuhku di bangku. "Tapi, aku belum tau siapa namanya. Apakah aku harus berkenalan?" tanyaku dalam hati. "Ah tidak! Mungkin nanti aku mengetahui namanya" jawabku sendiri dalam hati. karena melamun, tak kusadari Ara telah hadir. Dia tercengang ketika melihatku seperti mayat hidup yang sedang bahagia. Tak urung muncul keisengan Ara untuk mengagetkanku yang tengah melamun itu. "HAYOOOOO!!!!! NGELAMUNIN AKU YAAA???" katanya dengan suara yang mungkin bisa memecahkan sekolah dengan seketika. "Ara!! Ngapain sih ganggu mulu!!" protesku karena perbuatan Ara yang tiba" itu. Ara cuman bisa nyengir dan langsung menghempaskan tubuhnya di bangku sebelahku. Lalu dia bertanya. "Kenapa sih? Kangen karena takut aku gak dateng yah? Hehehe" katanya yang disertai senyum indah pepsodent miliknya. Akupun berkata cukup pelan supaya hanya Ara yang mengetahui apa yang terjadi padaku tadi pagi. "Dia ada disini" kataku yang mungkin hanya didengar oleh kelelawar yang memiliki indra pendengaran super. Tetapi ucapanku barusan mampu mengagetkan Ara. "Seriusan nih? Lagi gak kena syindrom kangen kan?" katanya sambil mencoba memegang kepalaku. Akupun segera menepisnya dan menjawab pertanyaannya. "Ngapain juga bohong? Gila apa bohong cuman demi dia. Yaampun Ra sumpah yah kalo dari deket itu dia ganteng banget. Senyumnya menawan banget Ra!!!" kataku sambil menggebu-gebu menjelaskan apa yang telah terjadi. Ara hanya bisa tersenyum dan berkata. "Ya udah. Pokoknya kamu jangan sampai nangis ya" pintanya kepadaku. Akupun hanya mengangguk tanpa mengacuhkan apa yang dimaksud Ara barusan.
"KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINGGGGGGGGG" bel sekolah melengking dengan keras. Itu tandanya sekolah akan segera dimulai. Dan itu tandanya aku bisa melihat dia. "Akan kulewati hari ini dengan sangat manis" batinku dalam hati. Langkah kakinya telah kudengar, batang hidungnya telah nampak, dan akhirnya dia telah hadir di ambang pintu. Akupun segera mengganggu Ara yang sedang asyik membaca novel. "Ra, Ra, Itu dia dateng Ra!!" Ara yang kelihatan kaget langsung bertanya "Eh? Dimana-dimana?" Katanya sambil mencari sosok yang kumaksud. Kulihat ekspresi Ara sedikit tercengang, kemudian berpaling padaku dengan senyum menggoda "Ciyeeeh bakalan semangat sekolah nih??" katanya dengan nada menggoda. Tak urung akupun menahan senyum. "Kamu harus keliatan pinter ya Ndri, biar dia WAW banget sama kamu" kata Ara memberi solusi. Akupun hanya mengiyakan ucapan Ara barusan.

Kamis, 05 Januari 2012

Secret Admirer

      Selama perjalanan ke sekolah aku cuma memikirkan bagaimana serunya punya teman baru, suasana yang beda, dan keseruan lainnya. Saking asiknya aku membayangkan bagaimana masa SMP-ku, aku baru sadar kalo aku sudah sampai di sekolah. Tentu saja, Mas Reno yang menyadarkanku. "Udah sampe. Mau ngelamun sampe berapa tahun lagi nona?" goda kakakku sambil tertawa. Akupun langsung mencibir. "Sapa juga yang ngelamun?" alibiku. "Halah! Aku itu abangmu! Aku tau kalo kamu beralibi" tebaknya yang tak urung membuatku tertawa juga. "Udah sana buruan masuk! Katanya mau cari kelas?" kata Mas Reno mengingatkan. "iya, tapi ak tunggu Ara dulu deh, nanti kita ke TU bareng" alasanku. Mas Renopun hanya mengiyakan dan pamit pulang. Aku mengiringi kepergian Mas Reno dengan senyuman.
     15 menit berlalu dan akupun belum melihat Ara. "Ya ampun! Kenapa gak telpon Ara dari tadi sih??" rutukku dalam hati. Aku segera mengambil handphone dan mencari nomer Ara. Setelah ketemu aku menelpon Ara. "Ra, kamu dimana? Aku tungguin juga!" kataku pada Ara dengan hati sebal. "Hehe. Maaf deh Ndri, aku telat bangun. Kamu masuk dulu deh, nanti beritau aku ya kelasnya dimana!" kata Ara dengan nada penyesalan. "Dasar kutil! Kenapa gak bilang dari tadi sih?" kataku kecewa dengan penjelasan Ara. "Ya maaf, aku kan lupa kalo bawa HP, hehe" katanya disebrang telpon. "Iya deh. Nanti langsung aku tunggu di kelas ya?" kataku akhirnya. "Oke deh bos! Udah ya, lagi baca novel nih! dadaaah!!!" katanya lalu menutup telepon. Akupun heran dan tak urung tertawa juga. Dan akhirnya aku masuk ke dalam sekolah. SMP Harapan Bangsa, sekolah swasta yang berbasis Internasional, dan termasuk salah satu sekolah favorit di kota Yogyakarta. Aku masuk kesini bukan karena NEM-ku yang dibawah rata-rata, tetapi karena sekolah negeri jauh dari rumahku. Orangtuaku tidak mau mengambil resiko, yah karena aku anak bungsu, dan juga Mas Reno kerja di Jakarta. Kalo Ara, dia memang tidak bisa masuk negeri, mangkanya dia aku suruh masuk sekolah yang sama denganku. Akupun segera masuk ruang TU. Aku menanyakan di ruang TU dimana pengumuman letak kelas. Setelah diberitau, akupun pamit dan menuju ruang yang ditunjukkan petuga TU tadi. Aku mencari namaku di papan pengumuman letak kelas. "Indriani Suci Indriani Suci..." gumamku. "Nah! ini dia!" seruku karena telah menemukan namaku di jajaran nama anak lain. "Wah! Ara juga sekelas! Kasih tau Ara aaaah" seruku karena aku juga menemukan nama Noviara Kintami di barisan nama di bawahku. Akupun segera meng-sms Ara. "Ra, kamu sekelas sama aku. Kita masuk kelas 7F. Kamu langsung cari kelasnya ya?" ketikku di layar handphone dan langsung mengklik kata 'send'. Kemudian aku mencari kelasku. Setelah aku menemukan kelasku, aku segera masuk kesana. Masih diambang pintu, mataku tertancap lurus pada sosok yang ada di bangku ketiga dari depan. Sosok itu.... Sosok yang selama ini membuatku tak bisa menutup mata ketika malam, yang membuatku menjadi 'anak labil' (kata Mas Reno, aku sendiri gak tau apa arti kata labil), dan membuatku menjadi bingung tak keruan. Dialah yang selama ini kudamba, yang selalu kurindu di tiap malamku. Meskipun aku baru mengenalnya selama 3 hari, tapi aku merasa sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. tiba-tiba, seseorang membuyarkan lamunanku. Dia! Yang menyadarkan semua lamunanku tentangnya! Aku kaget. Dia lalu berkata "Eh? Kaget ya? Maaf deh, abis kamu berdiri aja kayak patung, ngehalangin jalan lagi, minggir dikit dong!" pintanya. Aku yang baru tersadar langsung meminta maaf dengan tergagap "eh... eng.. i..iyakah? ma..maaf deh" kataku dan langsung masuk tanpa berani menatapnya...

Selasa, 03 Januari 2012

Secret Admirer

"Kriiiiiiiinggggggggg"
Jam beker membangunkanku pagi ini. Walaupun mataharipun belum juga ikutan bangun, aku sendiri telah bersiap-siap untuk mandi. Aku sengaja bangun sangat pagi karena aku tidak mau telat masuk pada hari pertama sekolah! Urusannya bisa panjang kalo sampe telat masuk sekolah!.
"Tumben bangun pagi bener, biasanya diatas jam 6?" tanya Mas Reno waktu aku turun dari tangga, hendak menuju kamar mandi. Dia adalah kakak pertamaku, yang juga satu-satunya anak laki-laki dirumah ini. Mas Reno orangnya iseng, apalagi sama aku. Tapi sebenernya dia baik dan juga sayang sama keluarga, terutama aku. Dia juga satu-satunya orang dirumah ini yang berhasil menempuh pendidikan di Universitas Harvard dengan beasiswa. Ya, memang Mas Reno ini cerdas, dan terkadang aku ingin seperti dia. Aku menyeringai dan membalas ucapannya. "Ini kan hari spesial, mana mungkin aku telat bangun! hehe". Mas Reno hanya bisa geleng-geleng, lalu berlalu hendak menuju kamar mandi. Tapi segera kuhalangi sambil berkacak pinggang. "Aku kan udah bilang, ini hari spesialku! Aku gak mau telat hari ini! Jadi, aku dulu yang mandi!" kataku sambil berbalik menuju kamar mandi, lalu segera menutup pintunya. Mas Reno cuman bisa tersenyum, lalu meninggalkan kamar mandi. Sambil mandi aku segera tersadar akan kehadiran Mas Reno. Bukankah ia sekarang harus bekerja? Akupun menanyakan sambil berteriak. "OH YA MAMA SAMA PAPA KEMANA?? TRUS MAS RENO NGAPAIN DIRUMAH?? HARUSNYA KAN MAS RENO MASIH DI JAKARTA??" tanyaku dengan nada berharap Mas Reno menjawabnya. Dan ternyata Mas Reno menjawab, "Mama sama Papa dinas di Australia, mungkin sampe 3 bulan, Mas Reno disuruh jaga kamu, Mama takut ninggalin kamu sendirian. Tapi Mas Reno cuman ambil cuti selama sebulan, sisanya kamu Mas Reno titipin sama Bi Inah. Kamu gak keberatan kan?" tanyanya kepadaku. "Nggak, aku malah senang jadi gak ada yang ngisengin aku sampe nangis lagi.". Sayup-sayup aku mendengar Mas Reno tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku. "Gila! Denger aja tuh orang! paahal aku ngomongnya juga gak seberapa keras! ckckck" batinku dengan heran. Selesai mandi aku menuju kamar. Aku segera berdandan dan memakai baju sekoah baruku. "Gila, keren banget lo!" kataku sambil memutar-mutar tubuh didepan cermin, Selesai berdandan aku menuju ruang makan dan melihat Mas Reno selesai mandi. "Lho mandi dimana?" tanyaku. "Aku pinjem kamar mandiya Bi Inah, takut kamu mandi kelamaan. Udah, makan aja gih cepet ntar telat!" katanya sambil menyuruhku duduk di meja makan. "OKE!" jawabku sambil menghempaskan tubuh ke meja makan. "Hari ini kamu aku anter, seterusnya berangkat sendiri naik angkot. Kata mama kamu harus mandiri!" kata Mas eno sambil menyuapkan nasi ke mulutnya. Aku mengangguk. Setelah selesai makan kami menuju ke garasi untuk mengambl motor. It's time to go school yeah!!