Kamis, 05 Januari 2012

Secret Admirer

      Selama perjalanan ke sekolah aku cuma memikirkan bagaimana serunya punya teman baru, suasana yang beda, dan keseruan lainnya. Saking asiknya aku membayangkan bagaimana masa SMP-ku, aku baru sadar kalo aku sudah sampai di sekolah. Tentu saja, Mas Reno yang menyadarkanku. "Udah sampe. Mau ngelamun sampe berapa tahun lagi nona?" goda kakakku sambil tertawa. Akupun langsung mencibir. "Sapa juga yang ngelamun?" alibiku. "Halah! Aku itu abangmu! Aku tau kalo kamu beralibi" tebaknya yang tak urung membuatku tertawa juga. "Udah sana buruan masuk! Katanya mau cari kelas?" kata Mas Reno mengingatkan. "iya, tapi ak tunggu Ara dulu deh, nanti kita ke TU bareng" alasanku. Mas Renopun hanya mengiyakan dan pamit pulang. Aku mengiringi kepergian Mas Reno dengan senyuman.
     15 menit berlalu dan akupun belum melihat Ara. "Ya ampun! Kenapa gak telpon Ara dari tadi sih??" rutukku dalam hati. Aku segera mengambil handphone dan mencari nomer Ara. Setelah ketemu aku menelpon Ara. "Ra, kamu dimana? Aku tungguin juga!" kataku pada Ara dengan hati sebal. "Hehe. Maaf deh Ndri, aku telat bangun. Kamu masuk dulu deh, nanti beritau aku ya kelasnya dimana!" kata Ara dengan nada penyesalan. "Dasar kutil! Kenapa gak bilang dari tadi sih?" kataku kecewa dengan penjelasan Ara. "Ya maaf, aku kan lupa kalo bawa HP, hehe" katanya disebrang telpon. "Iya deh. Nanti langsung aku tunggu di kelas ya?" kataku akhirnya. "Oke deh bos! Udah ya, lagi baca novel nih! dadaaah!!!" katanya lalu menutup telepon. Akupun heran dan tak urung tertawa juga. Dan akhirnya aku masuk ke dalam sekolah. SMP Harapan Bangsa, sekolah swasta yang berbasis Internasional, dan termasuk salah satu sekolah favorit di kota Yogyakarta. Aku masuk kesini bukan karena NEM-ku yang dibawah rata-rata, tetapi karena sekolah negeri jauh dari rumahku. Orangtuaku tidak mau mengambil resiko, yah karena aku anak bungsu, dan juga Mas Reno kerja di Jakarta. Kalo Ara, dia memang tidak bisa masuk negeri, mangkanya dia aku suruh masuk sekolah yang sama denganku. Akupun segera masuk ruang TU. Aku menanyakan di ruang TU dimana pengumuman letak kelas. Setelah diberitau, akupun pamit dan menuju ruang yang ditunjukkan petuga TU tadi. Aku mencari namaku di papan pengumuman letak kelas. "Indriani Suci Indriani Suci..." gumamku. "Nah! ini dia!" seruku karena telah menemukan namaku di jajaran nama anak lain. "Wah! Ara juga sekelas! Kasih tau Ara aaaah" seruku karena aku juga menemukan nama Noviara Kintami di barisan nama di bawahku. Akupun segera meng-sms Ara. "Ra, kamu sekelas sama aku. Kita masuk kelas 7F. Kamu langsung cari kelasnya ya?" ketikku di layar handphone dan langsung mengklik kata 'send'. Kemudian aku mencari kelasku. Setelah aku menemukan kelasku, aku segera masuk kesana. Masih diambang pintu, mataku tertancap lurus pada sosok yang ada di bangku ketiga dari depan. Sosok itu.... Sosok yang selama ini membuatku tak bisa menutup mata ketika malam, yang membuatku menjadi 'anak labil' (kata Mas Reno, aku sendiri gak tau apa arti kata labil), dan membuatku menjadi bingung tak keruan. Dialah yang selama ini kudamba, yang selalu kurindu di tiap malamku. Meskipun aku baru mengenalnya selama 3 hari, tapi aku merasa sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. tiba-tiba, seseorang membuyarkan lamunanku. Dia! Yang menyadarkan semua lamunanku tentangnya! Aku kaget. Dia lalu berkata "Eh? Kaget ya? Maaf deh, abis kamu berdiri aja kayak patung, ngehalangin jalan lagi, minggir dikit dong!" pintanya. Aku yang baru tersadar langsung meminta maaf dengan tergagap "eh... eng.. i..iyakah? ma..maaf deh" kataku dan langsung masuk tanpa berani menatapnya...

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar